Belajar dari Kakek Pencari Kayu tentang Syukur dan Keikhlasan Hidup

Di balik langkah sederhana seorang kakek pencari kayu, tersimpan pelajaran tentang rezeki, kesabaran, keikhlasan, dan rasa syukur kepada Allah.

Pagi belum sepenuhnya terang ketika seorang kakek berjalan menyusuri jalan kecil menuju hutan. Di pundaknya tergantung seutas tali, sementara tangannya menggenggam tongkat yang membantunya melewati tanah berbatu. Usianya telah lanjut, tetapi ia masih mencari ranting dan kayu kering untuk dijual di pasar. Hasilnya tidak seberapa, namun cukup untuk membeli beras dan memenuhi sebagian kebutuhan sehari-hari. Orang-orang yang melihatnya kerap merasa iba. Mereka membayangkan betapa berat kehidupan seorang lelaki tua yang masih harus bekerja ketika sebagian orang seusianya telah menikmati masa istirahat. Namun, setiap kali seseorang menanyakan keadaannya, sang kakek selalu menjawab dengan tenang. Ia mengatakan bahwa selama tubuhnya masih diberi kekuatan, ia ingin terus berusaha dan tidak mudah mengeluh. Rezeki Tidak Selalu Diukur dari Banyaknya Harta Suatu pagi, seorang pemuda berpapasan dengan kakek tersebut di tepi jalan. Melihat ikatan kayu di pundaknya, pemuda itu menawarkan bantuan untuk membawakan sebagian hasil pencariannya. Dalam perjalanan, pemuda tersebut bertanya mengapa sang kakek masih bekerja begitu keras. Ia merasa sedih membayangkan penghasilan yang begitu kecil dibandingkan tenaga yang harus dikeluarkan. Kakek itu tersenyum sambil berhenti sejenak untuk mengatur napas. Baginya, penghasilan yang sedikit bukan alasan untuk melupakan nikmat kesehatan, kesempatan bekerja, dan makanan yang masih dapat dinikmati. Jawaban sederhana itu membuat pemuda tersebut terdiam. Selama ini ia sering merasa kekurangan, meskipun pekerjaannya memberinya penghasilan yang jauh lebih besar daripada hasil penjualan kayu sang kakek. Dalam kehidupan, kita memang mudah membandingkan apa yang dimiliki dengan keberhasilan orang lain. Ketika perhatian hanya tertuju pada sesuatu yang belum diperoleh, nikmat yang telah hadir perlahan kehilangan tempat dalam ingatan. Padahal, Allah mengingatkan dalam Surah Ibrahim ayat 7 tentang pentingnya bersyukur atas nikmat-Nya. Rasa syukur mengajarkan kita menghargai pemberian Allah sekaligus menggunakan apa yang dimiliki dengan sebaik-baiknya. Keikhlasan dalam Pekerjaan yang Sederhana Setibanya di pasar, kakek itu meletakkan ikatan kayunya di dekat beberapa pedagang. Ia menunggu pembeli dengan sabar sambil sesekali menyapa orang-orang yang melintas. Tidak semua orang tertarik membeli kayunya. Bahkan, ada yang menawar dengan harga sangat rendah tanpa memikirkan perjalanan panjang yang telah ditempuhnya sejak pagi. Meski demikian, sang kakek berusaha menjaga perkataan dan tidak membalas perlakuan kurang menyenangkan dengan kemarahan. Ia memahami bahwa setiap orang mempunyai kesulitan sendiri, meskipun bukan berarti dirinya harus menerima perlakuan yang tidak adil. Keikhlasan bukan berarti membiarkan diri terus dirugikan atau menganggap pekerjaan berat sebagai sesuatu yang harus ditanggung tanpa pertolongan. Keikhlasan berarti berusaha dengan niat baik, menjaga kejujuran, dan tidak menjadikan penilaian manusia sebagai satu-satunya…

Oleh Nagharen · 2026-10-13

SABIQ